Untuk Kapten, yang pernah jadi rumah paling nyaman...
Terima kasih.
Untuk tawa-tawa yang dulu sederhana tapi kini jadi kenangan yang nyangkut di relung terdalam. Untuk detik-detik yang tak pernah panjang, tapi selalu terasa cukup. Untuk caramu hadir—walau kadang terlambat, kadang setengah-setengah—tetapi dulu, aku tetap menyambut.
Aku pernah menaruh seluruh rasaku padamu. Aku pernah menunggumu lebih lama dari yang bisa dimengerti oleh logika. Aku pernah menjadikanmu tujuan, arah, bahkan tak jarang—alasan aku bertahan.
Tapi aku lupa satu hal: bahwa cinta juga butuh ruang untuk bernapas, bukan hanya bertahan.
Kapten, jika kamu membaca ini suatu hari nanti, ingatlah… aku tidak menyesal pernah mencintaimu. Aku bangga pada diriku yang mampu mencintai seindah itu, sejujur itu. Tapi mencintai bukan berarti terus tinggal. Kadang, mencintai juga berarti memberi jalan, bahkan jika itu menyakitkan.
Hari ini, aku tidak lagi menunggu.
Bukan karena aku berhenti mencintaimu,
tapi karena aku mulai mencintai diriku.
Dan dari semua pelayaran panjang kita, aku belajar satu hal:
bahwa tidak semua yang kita perjuangkan, harus kita miliki.
Beberapa hanya perlu kita ikhlaskan… dengan cara yang anggun.
Selamat tinggal, Kapten.
Ini surat terakhir.
Bukan karena aku menyerah,
tapi karena akhirnya aku tahu, aku pantas untuk tenang.
Komentar
Posting Komentar